Minggu, 28 Maret 2010

Persiapan Pernikahan Menurut Islam

Betul, bahwa pernikahan merupakan satu-satunya sarana yang berfungsi untuk melakukan hubungan badan (bersetubuh) antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan hukum agama dan kenegaraan (khususnya di Indonesia) yang benar. Dan benar juga bahwa pernikahan merupakan salah satu media bermuaranya nafsu birahi antara laki-laki dan perempuan. Tempat meleburnya cinta yang menggebu di antara dua anak manusia (laki-laki dan perempuan). Dan itulah pemahaman yang selama ini paling banyak kita temui dalam pemikiran kebanyakan manusia.

Tidak salah manakala kita memiliki pemikiran seperti di atas mengenai sebuah pernikahan. Namun, jangan sampai pemikiran yang demikian akhirnya menutup atau membuat terblokirnya pemikiran yang lebih bernilai mengenai pernikahan masuk ke dalam otak dan kehidupan kita.

Ada satu pemikiran lain yang lebih berbobot mengenai pernikahan ketimbang pemikiran-pemikiran di atas. Dengan kacamata yang lebih baik, kita dapat menemukan bahwa pernikahan tidaklah hanya sebatas media pelampiasan dan pemuas nafsu birahi antara laki-laki dan wanita, melainkan sebagai pintu pembuka kehidupan yang baru.

Dengan melakukan pernikahan, berarti seseorang telah siap untuk menempuh dan menciptakan kehidupan yang baru dengan pasangan dan kemudian dengan anak keturunannya. Yang perlu di pertanyakan di sini adalah, seperti apakah sebenarnya kehidupan baru yang kita harapkan dan tengah kita bangun tersebut?

Dua macam kehidupan baru yang mungkin akan menjadi pilihan bagi setiap pasangan adalah kehidupan yang lebih baik, tenteram, dan penuh dengan cinta. Atau justru sebaliknya, kehidupan baru yang ternyata lebih buruk, penuh dengan pertengkaran dan kekerasan rumah tangga.

Setiap kita tentu saja menginginkan pernikahan yang akan menghantarkan kita kepada kehidupan baru yang lebih baik, bukan lebih buruk. Oleh karena itu, tentunya banyak hal yang harus kita persiapkan jauh-jauh hari sebelum keputusan untuk menikah itu datang.

Yang selama ini banyak terjadi adalah, persiapan untuk sebuah pernikahan itu biasanyan dilakukan manakala seseorang telah mengambil keputusan untuk menikah. Biasanya, satu hingga tiga bulan sebelum hari “H” mereka baru mulai mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan dan kerumah tanggaan. Cara yang seperti inilah yang sering kali menimbulkan hasil yang tidak maksimal atau persiapan yang tidak maksimal, karena dilakukan secara instan. Persiapan semacam ini dapat diibaratkan seperti memasak tempe dengan api yang sangat besar, dengan tujuan agar tempe tersebut dapat matang (masak) lebih cepat. Memang betul, tempe tersebut dapat matang (masak) lebihcepat, namun ketika digigit ternyata bagian dalamnya masih mentah. Seperti itulah persiapan yang instan, hanya mematangkan bagian luarnya saja.

Perjalanan pernikahan dan rumah tangga bukanlah jalan yang mudah, melainkan jalan yang penuh dengan ujian dan godaan, jalan berat yang tentunya juga membutuhkan persiapan dan bekal yang mantap. Oleh karena itu, hendaknya perkara pernikahan ini selalu dipersiapkan oleh setiap pemuda jauh sebelum keputusan untuk menikah tersebut ia jatuhkan. Dengan demikian, ketika ia memutuskan untuk menikah, ia akan berada pada kondisi matang (masak) secara sempurna, tidak hanya matang di luarnya saja.

Persiapkan jasmani dengan membiasakan diri untuk berolah raga, rohani dengan selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt, ilmu mengenai pernikahan dan rumah tangga melalui bacaan-bacaan atau konsultasi langsung dengan para kenalan yang sudah merasakan pahit getirnya pernikahan dan rumah tangga, dan yang pasti harus juga dipersiapkan adalah masalah ekonomi.

Janganlah lagi kita membiasakan diri untuk mengatakan, “Kawin??? Masih jauh kali…!!!”. Kapanpun pernikahan itu akan kita datangi, sudah dekat atau masih lama, atau mungkin kita tidak pernah tahu atau belum merencanakan waktunya, tetapi pernikahan tetap harus menjadi satu tujuan hidup yang selalu kita persiapkan jauh sebelum pernikahan itu kita gapai.

Marilah kita datangi mahligai pernikahan dengan kondisi yang matang sempurna, bukan matang di luarnya saja, yaitu dengan senantiasa mempersiapkan pernikahan itu sendiri jauh sebelum tibanya satu rencana. Semoga dengan demikian, kita akan memperoleh pernikahan dan kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketenteraman dan kasih sayang.

Dari : www.lingkarcahaya.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar